PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PERINTISAN  HOME INDUSTRY “CRICKET FLOUR” (TEPUNG JANGKRIK)  DALAM MENUMBUHKAN WIRAUSAHA BURUH MIGRAN DI DESA SABRANG KABUPATEN JEMBER

  1. Iqbal, Lutfi A, dan A. Hariono*

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember

Tahun 2020

Desa Sabrang adalah termasuk kategori desa swasembada, swakarya, swamadya di wilayah kecamatan Ambulu Kabupaten Jember dan terletak ke arah selatan + 5 Km dari ibu kota kecamatan yang memiliki luas desa + 1.120,208 Ha. Dengan struktur tanah yang subur dengan  ketinggian 15 m dari permukaan air laut. yang terdiri dari lima dusun  yakni : Dusun Kebonsari ,Dusun Krajan , Dusun Tegalrejo, Dusun Jatirejo Dan Dusun Ungkalan. Dengan luas dan batas wilayah ;

1.120,208 Ha.  Dengan batas:

  1. sebelah selatan berbatasan dengan desa sumberrejo kec. Ambulu
  2. sebelah barat berbatasan dengan desa lojejer Kec. Wuluhan
  3. sebelah utara berbatasan dengan desa Tegal sari kec. Ambulu dan desa kesilir kec. Wuluhan.
  4. sebelah timur berbatasan dengan desa Andongsari Kec. Ambulu

Di Desa Sabrang hal ini dilihat dari jumlah penduduk Desa seluruhnya 14.577 Jiwa, dimana mayoritas suku Jawa yang tersebar di 5 Dusun. Pekerjaan utama penduduk adalah petani dengan persentase sebesar 60 % rumah tangga menggantungkan hidup dari pertanian dan beternak dan sisanya menjadi guru, pegawai, pedagang dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan tujuan utama Kore Selatan dan Negara ASEAN. Para Ex TKI atau buruh Migran ini memiliki permasalahan kurangnya keterampilan ketika bekerja ke luar negeri. Hal ini banyak menimbulkan permasalahan dengan banyaknya deportasi tenaga kerja dan menjadikan para buruh migran menganggur. Permasalahan muncul dengan kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh calon tenaga kerja yang akhirnya berdampak pada banyaknya TKI ilegal. Di Desa Sabrang banyak ditemui eks buruh migran tersebut. Keterampilan yang kurang menjadikan eks buruh migran bekerja serabutan dan ada sebagian besar yang melakukan kegiatan beternak Jangkrik. Peluang usaha beternak jangkrik yang tidak memerlukan biaya dan perawatan yang rumit dan mahal membuat para buruh migran memilih usaha beternak jangkrik. Namun permasalahan lain muncul seiringnya, para buruh migran lain ikut melakukan budidaya jangkrik. Selama ini, hasil peternakan jangkrik hanya dijual untuk kebutuhan pakan burung semata, dengan melimpahnya hasil ternak jangkrik ini para peternak buruh migran yang mengandalkan penjualan untuk pakan semata semakin tertekan dengan banyaknya persaingan antar peternak baru. Perlu kiranya para peternak jangkrik buruh migran untuk mulai melakukan diversifikasi produk olahan dari bahan baku hewan jangkrik ini salah satunya dengan membuat cricket flour (Tepung Jangkrik).

Kegiatan berternak jangkrik ini memberikan peluang usaha bagi peternak eks buruh migran untuk dapat meningkatkan perekonomian keluarga tanpa harus nantinya menjadi buruh migran ke luar negeri. Pengembangan diversifikasi produk ini menjadi sebuah peluang bagi para peternak jangkrik buruh migran untuk meningkatkan nilai jual dari hewan jangkrik tidak hanya dijual sebagai pakan ternak saja, namun menjadi bahan dasar lain yang bernilai guna.  Pengolahan jangkrik menjadi cricket flour dapat menunjang perekonomian masyarakat khususnya peternak demi menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru di Desa Sabrang. Permasalahan yang ditemukan di Desa Sabrang, membutuhkan solusi-solusi yang akan diimplementasikan dalam kegiatan program pengabdian. Dari tiga permasalahan yang ditemukan yaitu; 1) Di Desa Sabrang tersebar pada peternak jangkrik yang notabene mantan buruh migran yang perlu diberdayakan, sebagian besar buruh migran memiliki usaha sampingan sebagai peternak jangkrik untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. 2) Keterbatasan keterampilan yang dimiliki oleh peternak Jangkrik yang belum mampu mengolah dengan bahan dasar jangkrik. Hewan jangkrik hanya diperjualbelikan untuk pakan burung semata. Potensi sumber daya manusia para peternak jangkrik Desa Sabrang perlu dikembangkan dalam diversifikasi produk hasil olahan karena dengan membuat cricket flour ini akan menambah nilai jual dari hasil peternakan jangkrik itu sendiri. 3) Potensi kembali menjadi butuh migran sangat besar di daerah Sabrang, sebagian penduduk usia produktif rela mencari pekerjaan ke luar negeri baik legal maupun ilegal. Hal ini perlu diberikan keterampilan dengan memanfaatkan potensi lokal daerah setempat.

Maka kegiatan pengabdian sebagai solusi permasalahan tersebut diatas terangkum dalam kegiatan sebagai berikut:  Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan pengabdian kemitraan ini mencoba memberikan solusi dengan melakukan pelatihan home industry membuat cricket flour untuk menumbuhkan wirausaha para buruh migran dengan beberapa tahapan diantaranya:

  1. Mengembangkan pelatihan diversifikasi produk olahan hewan jangkrik menjadi membuat cricket flour untuk meningkatkan nilai jual hasil peternakan. Penyelenggaraan pelatihan cricket flour ini melibatkan para peternak jangkrik untuk mencoba melakukan sebuah inovasi usaha diversifikasi produk hasil beternak jangkrik, yang diharapkan menambah nilai jual dari beternak hewan jangkrik itu sendiri.
  2. Memberikan pelatihan berwirausaha skala home industry untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wirausaha sehingga dapat menumbuhkan wirausaha baru di Desa Sabrang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember

Tahap ini dilakukan setelah peternak jangkrik dilatih untuk bias membuat cricket flour, hasil pelatihan dan keterampilan yang sudah dimiliki oleh peternak akan dibimbing dan didampingi bagaimana berswausaha yang sukses, maka perlu dilakukan sebuah pelatihan kewirausahaan untuk mengenali dan mengelola usaha agar sukses. Setelah mendapatkan tambahan pengetahuan dan kompetensi, para peternak akan dibimbing dan dibina untuk menjadi wirausaha.